Paradoks Kecerdasan

Sepintas, kecerdasan memang hanya diukur dari banyaknya variasi. Tetapi ada hal yang agak mengganggu: sering orang-orang yang dianggap intelek menyatakan bahwa seseorang dapat disebut pintar kalau dapat menyederhanakan hal-hal yang rumit. Ada kaitan antara menyederhanakan dengan variasi. Menyederhanakan berarti mengurangi jumlah variasi.

Apa contohnya? Orang yang menyimpulkan bahwa nada-nada dalam sekian banyak lagu –mungkin semua lagu di dunia ini– dapat dikelompokkan dalam 12 nada saja (7 nada mayor dan 5 nada minor) adalah orang yang sangat cerdas. Kita tidak tahu siapa orang ini, tetapi dia sangat cerdas. Penyederhanaan yang dilakukannya membuat kita mampu menulis lagu-lagu serumit apapun ke dalam notasi yang dapat dipahami hampir semua musisi. Sebelum penemu sistem ini membuat penemuannya, telah banyak orang cerdas yang menulis lagu-lagu rakyat di berbagai belahan dunia; tetapi mereka tidak dapat menemukan kesederhanaan tersebut.

Di sini kita mulai paradoks (pertentangan): di satu sisi kecerdasan diukur berdasarkan kemampuan memperbanyak variasi. Di sisi lain, kecerdasan diukur berdasarkan kemampuan mengurangi variasi. Continue reading “Paradoks Kecerdasan”

Meniti Karir Bidang Informatika

Komputer tak lebih hanyalah dipandang sebagai sebuah alat bantu manusia dalam mengolah kata dan angka, sehingga pada mulanya hanya dipandang sebagai piranti pengganti mesin tik dan kalkulator yang terintegrasi.

Seperempat abad berlalu sudah, diwarnai dengan terjadinya revolusi di bidang industri informasi melalui kehadiran dan perkembangan komputer dalam beragam aspek kehidupan manusia. Konvergensi teknologi komputasi, telekomunikasi, dan konten multimedia yang dikenal dengan istilah ICT (baca: Information and Communication Technology) ini secara super cepat telah merasuk menjadi piranti pendukung dan pemicu perubahan di hampir seluruh sektor industri seperti: manufaktur, keuangan dan perbankan, kesehatan, pendidikan, retail dan distribusi, pariwisata, dan jasa-jasa lainnya. Ilmu “kursus-kursusan” ini pun telah berubah menjadi primadona teknologi yang ditandai dengan lahirnya beraneka ragam disiplin pengetahuan yang dipelajari secara akademis maupun profesional di berbagai perguruan tinggi besar dunia, tak terkecuali di Indonesia. Dari sekitar 2,500 perguruan tinggi yang ada di tanah air, lebih dari 750 institusi yang telah memiliki jurusan informatika dan komputer, dengan jumlah mahasiswa aktif sekitar 600,000 dan lulusan tak kurang dari 40,000 siswa per tahunnya. Continue reading “Meniti Karir Bidang Informatika”

Membekali Lulusan Informatika

Banyak orang bertanya-tanya, kompetensi lulusan informatika seperti apa yang dibutuhkan oleh dunia industri? Perguruan tinggi dengan konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) telah jauh-jauh hari mendefinisikan kebutuhan tersebut dengan menyatakan bahwa paling tidak seorang lulusan informatika yang ideal harus memiliki 3 (tiga) jenis kompetensi utama agar dapat bersaing dalam era global sekarang ini. Perguruan tinggi yang baik berusaha menyesuaikan kurikulum maupun pendekatan proses belajar-mengajarnya agar mahasiswa terkait terbekali dengan ketiga kompetensi tersebut. Berikut adalah penjelasan mengenai bekal yang dimaksud. Continue reading “Membekali Lulusan Informatika”