Ketoprak Lakon Bola

Karena kedekatannya dengan seni, bola tampaknya juga dapat menjadi inspirasi bagi humor dan komedi. Itulah mungkin yang mendorong Marwoto dan kawan-kawannya mementaskan ketoprak humor di Yogyakarta dengan lakon Geger Sampdoria. Semua nama para pelaku ketoprak humor itu diambil dari dunia bola.

Kisah dimulai dengan wafatnya Sultan Sampdoria, Prabu Platini. Prabu Platini menurunkan dua putra. Dari garwa pangrembe (selir) Raden Ayu Pirkik (free kick) dari Uruguay lahirlah Pangeran Van Basten (diperankan oleh: Yusuf Agyl). Dan dari permaisuri Kusumaning Ayu Diah Penalti, Prabu Platini memperoleh Pangeran Muller (Sopyan Hw).

Untuk memilih siapa dari dua putra itu berhak naik takhta, Patih Valderama memanggil seluruh bupati wilayah Sampdoria. Sebelumnya Patih Valderama mengadakan absensi. Para bupati itu datang dari Ajax, Torino, Juventus, Bayern Muenchen, dan Benfica. “Bagus, semua hadir, tetapi dimana PSIM?” tanya Patih Valderama. PSIM singkatan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram, Yogyakarta.

“Saya mewakili PSIM” kata Bupati Benfica. “PSIM tidak bias hadir, karena sedang berada di Bantul, mengurusi wasit yang dihantami penonton” tambahnya.

“Lho, wasit itu gajinya hanya lima ribu rupiah, bagaimana ia bisa dihantami. Saya minta hal ini harus diurus dengan tuntas” kata Patih Valderama.

Dengan menyogok para bupati, akhirnya Pangeran Van Basten naik takhta Sampdoria. Pangeran Muller dipenjarakan. Di penjara Pangeran Muller bertemu dengan seorang maling budiman bernama Koeman (Marwoto Kawer). Koeman mencuri untuk menolong orang miskin di Sampdoria.

Dengan bantuan Koeman, Pangeran Muller bisa keluar dari penjara. Dia bertemu kembali dengan kekasihnya, Dewi Donadoni (Yati Pesek) di taman AC Milan. Dewi Donadoni  sedang main golf, ditemani oleh embannya Dewi Lentini (Didik Nini Thowok). Dengan pertolongan jin Lombardo (Purwanto), Koeman menemukan mustika Jules Rimet. Dan dengan pertolongan Koeman, Pangeran Muller bsa menduduki kembali takhta Sampdoria.

Kecuali nama-nama, ketoprak humor ini sama sekali tidak berhasil membawa permasalahan dan alam bola ke dalam pentasnya. Cerita dan humor mereka berjalan di luar dunia bola. Para pelaku pun kelihatan tidak tahu banyak soal bola. Tetapi jelas, dengan meminjam nama-nama dari dunia bola, mereka berhasil menarik demikian banyak penonton.

Bola seakan bias dipakai untuk apa saja. Ketoprak pun ternyata membutuhkan bola untuk mendongkrak popularitasnya. Terpentasnya Geger Sampdoria di Yogyakarta bukan bukti keberhasilan ketoprak menggarap lakon, melainkan bukti, betapa kini orang sedang dilanda demam bola.

 

Sumber: Disadur dari artikel buku “Bola Di Balik Bulan” karya Dr. Sindhunata – “Di Tengah Jalan Ke Pasadena”. Artikel ini dibuat menjelang kejuaraan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.