Tidak Ada Yang Terlambat

Better late than never, begitu kata orang Inggris. Mendingan telat dari pada terlambat (ini sih sama saja…), mending telat daripada tidak sama sekali. Lagi pula, ada banyak orang besar yang mulainya telat, tapi karena kesungguhannya yang sangat, dia bisa menyusul orang-orang yang sudah duluan melaju.

Untuk kamu yang telat, ada satu rahasia khusus. Orang-orang yang sudah di depan duluan, biasanya lupa diri dan merasa lebih hebat ketimbang kamu. Inilah titik kelemahan mereka. Begitu mereka lupa diri, mereka jadi tidak terkontrol, saat itulah kamu bisa menyusul dengan sekali gas, wuuuussss…wuuussss…

Orang yang belakangan bergerak mempunyai keuntungan juga. Misalnya, kamu bisa belajar dari kegagalan orang yang sudah duluan. Kamu bisa melihat kelemahan dan kekurangan mereka yang sudah duluan. Atas dasar pengalaman yang sudah duluan itu, kamu bisa melakukan perjalanan dengan lebih cermat dan seksama. Sekali lagi, tak ada yang terlambat. Kalu nasi sudah jadi bubur karena terlalu banyak air dan telat memadamkan api, kamu bisa menjadikannya bubur ayam.

Bagi yang telat, kalian harus belajar dari Umar bin Khatthab. Dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi yang lain, ia termasuk golongan yang telat. Namun karena kesungguhannya, ia bisa langsung menjadi sahabat utama Nabi. Rahasia Umar bin Khatthab adalah bahwa ia merumuskan perjalanannya dengan kesadaran yang benar-benar sadar, bukan sekedar ikut-ikutan. Kesadarannya itulah yang membuat ia dapat bergerak cepat.

Ok, tak ada yang terlambat selagi kamu masih bisa bergerak.

Saatnya Membuat Keputusan

Nah, sekarang adalah saatnya membuat keputusan setelah kita menyadari kesalahan dari kebiasaan kita maka sekaranglah saatnya yang tepat untuk membuat keputusan untuk beralih dari yang jelek ke yang baik. Membuat keputusan ini bukanlah perkara yang mudah dan juga tidak susah jadi bisa disebut susah-susah gampang lah. Sebab ini berhubungan dengan yang namanya waktu.
Waktu itu sifatnya dinamis dan cepat sekali dalam bergeraknya. Maka kita harus tepat dalam membuat keputusan. Jangan ada kata-kata, “entar aja ya kalo udah tua”, “tenang tar kalo udah saatnya gw juga bisa kok berubah” asli deh kata-kata ini sebetulnya adalah kata-kata pecundang yang merasa jago padahal dia gak ada apa-apanya. Jadi buatlah keputusan saat ini juga. Jangan ditunda-tunda lagi. Tentunya kalian masih ingatkan dengan ungkapan, “kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kalinya” makanya selagi ada kesempatan yang pertama maka langsung ambil keputusan untuk berubah.
Itulah yang dilakukan oleh Abu Dzar al-Ghifari ketika ia mendengar bahwa telah hadir seorang Rasul terakhir di kota Mekkah. Continue reading “Saatnya Membuat Keputusan”

Cahaya itu, ternyata…

Anda sedang berlari cepat menyusuri sebuah terowongan kereta api. Terowongan itu gelap sekali kecuali sebuah titik cahaya di depan Anda. Apakah titik cahaya itu adalah ujung terowongan? Dalam film kartun Roadrunner, pertanyaan itu terbetik dalam pikiran Wile E Coyote yang sedang mengejar Roadrunner ke dalam terowongan. Ingatannya mengatakan bahwa semua terowongan kereta api mempunya titik cahaya. Titik cahaya itu adalah ujung lain terowongan -bagi orang lain bisa jadi- tapi ingatan yang lain, tentang terowongan-terowongan yang pernah ia masuki, mengatakan bahwa tidak semudah itu. Mungkin saja, titik cahaya itu adalah lampu kereta yang melaju ke arahnya. Dalam film kartun, tentu saja, Wile E Coyote tergilas kereta.

Seberapa sering fenomena itu terjadi pada kita? Kita bergantung pada ingatan untuk menebak apa yang sedang kita lihat, tapi ingatan bisa salah, dan kita pun bisa terlindas kereta yang datang. Semoga (jangan terlindas kereta).

Kita Ingat Wajahnya, Tapi Lupa Namanya

Nama tidak pernah tersimpan di dalam otak sebaik kita menyimpan citra wajah. Sebagian besar fungsi pada korteks visual diabdikan untuk mengenali wajah. Bahkan luapan citra dari ‘departemen pengenalan wajah’ yang hiperaktif ini menyebabkan kita sering melihat wajah pada awan, kulit kayu, kanvas lukisan, dan sebagainya. Nama tidak seberuntung wajah. Bahasa adalah kecerdasan modern, baru ditemukan sekitar 100.000 tahun yang lalu, otak tidak menyediakan ruang yang cukup besar untuk hasil perkembangan kecerdasan baru ini, sehingga pengalaman yang biasa terjadi adalah “kita ingat wajahnya, tapi lupa namanya”, naaahhh lhooo…

Yang Muda Nggak Berpengalaman?

Memang banyak yang bilang kalo para pemuda itu gak punya banyak pengalaman, sehingga dengan dalih itu menyebabkan sulitnya yang muda-muda untuk tampil. Namun kita juga harus bertanya balik, gimana mau punya pengalaman kalo gak pernah di kasih kesempatan? Lagian bukan berarti pengalaman itu segala-galanya. Setidaknya kita punya yang namanya semangat dan idealitas serta ide-ide yang original. Lagian gak selamanya bermodal pengalaman aja bisa membuat perubahan, apalagi bila pengalaman itu gak pernah dipakai untuk menciptakan sesuatu yang baik. Buktinya, banyak loh para penjahat yang telah merasakan kehidupan penjara tetapi setelah lepas dalam waktu yang cepat ia kembali ke perbuatan yang menyebabkan dirinya masuk penjara lagi. Continue reading “Yang Muda Nggak Berpengalaman?”

Membangun Sikap Kritis

Setidaknya ada beberapa sikap yang harus kita jaga dalam menumbuhkan atau membangun sikap kritis pada diri kita. Beberapa sikap itu ialah:

  • Menjauhkan diri dari kejumudan berpikir serta mendorong keterbukaan intelektual. Rajinlah untuk selalu belajar dan belajar, jangan membatasi dirimu hanya dengan satu pemahaman tentang sesuatu tetapi cobalah untuk mencari referensi yang lain. Sebagai contoh apabila kita telah terbiasa shalat dengan memakai mazhab Syafi’i jangan lalu kita menafikan mazhab lain selain mazhab itu.
  • Rajinlah untuk selalu bertanya terutama mengenai sesuatu hal yang baru kamu temui. Jangan jadi pribadi yang selalu mau menurut dengan sesuatu yang baru. Apalagi jika sesuatu yang baru menawarkan iming-iming yang berlebih.
  • Untuk membangun sikap yang kritis kamu bisa juga dengan mempelajari kesuksesan seseorang atau kaum lalu coba membandingkan dengan diri kita sendiri apakah ada faktor-faktor dari kesuksesan tersebut yang ada pada diri kita, jika tidak ada maka coba untuk direnungkan kenapa seseorang itu bisa sedangkan kita tidak. Sebab, pada intinya manusia itu sama.

Sebetulnya banyak hal dan cara dalam membangun sikap yang kritis, untuk itu kamu dapat membaca buku-buku seperti, Revolusi Berpikir, karya Edward de Bonno. Atau buku-buku lain seputar pendidikan, seperti Quantum Learning yang pernah booming. Jadi, mulailah untuk menggunakan kemapuan berpikir kamu.

Berubah itu mudah kok..

Salah satu pandangan yang menyebabkan orang sulit atau tidak bisa berubah dari kebiasaan lamanya bahwa kebiasaan itu susah atau sulit untuk diubah. Bahkan ada yang bilang ini sudah takdir hidupnya. Makanya banyak orang yang terpuruk sering beranggapan bahwa kepurukannya itu tak lebih disebabkan oleh jalan hidup dari yang Maha Kuasa. Tetapi benar gak sih pendapat itu? Asli guys.. sesungguhnya pendapat itu gak benar. Sejatinya kebiasaan itu bisa kok untuk dirubah. Buktinya aja bagaimana sistem politik orde baru di Indonesia yang telah berkuasa selama 32 tahun bisa untuk dirubah.

Dan ngomong-ngomong soal takdir, ternyata itu gak bisa dilepaskan dari yang namanya hukum sunatullah atau yang lebih akrab dengan nama hukum sebab akibat. Continue reading “Berubah itu mudah kok..”