Teknologi Informasi – Satu Kaki Teknologi, Satu Kaki Sosial

Bicara mengenai teknologi informasi saat ini, kita akan sampai pada pandangan bahwa teknologi informasi ini memiliki satu kaki terletak di bidang teknologi “keras” (berkaitan dengan teknik, dsb), dan satu lagi berada di sisi humanistis (sosial, organisasi, bisnis, dll). Satunya serba “precise dan detail” satunya serba “imprecise dan komprehensif”.

Sebetulnya pada saat ini kurang tepat untuk melakukan dikotomi, antara bidang keteknikan atau sosial, karena pada dasarnya tinjauan teknologi yang baik pun harus memasukkan tinjauan sosial. Studi usabilitas, akseptibilitas pada teknologi informasi merupakan salah satu bidang yang sangat berfokus pada tinjauan sosial. Begitu juga dengan Computer Support Collaborative Work (CSCW). Pendekatan lebih terintegrasi pada setiap disiplin ilmu akan lebih bermanfaat pada saat ini. Continue reading “Teknologi Informasi – Satu Kaki Teknologi, Satu Kaki Sosial”

Bagaimana Menganalisis Masalah Bisnis Sistem Informasi

Permasalahan sistem informasi dalam dunia bisnis menghadirkan kombinasi manajemen, organisasi, dan isu teknologi. Berikut ini enam langkah proses untuk meneliti masalah bisnis yang menyangkut sistem informasi.

  1. Identifikasi masalah itu. Masalahnya bagaimana? Apakah masalah menyangkut manajemen, organisasi, teknologi, atau suatu kombinasi ketiganya? Apa saja isu-isu manajemen, organisasi, dan teknologi yang menyebabkan masalah tersebut?
  2. Apa solusi bagi masalah tersebut? Apakah sasaran dari solusi ini? Apakah ada beberapa solusi alternatif? Mana solusi alternatif yang terbaik dan mengapa?
  3. Bagaiman nantinya solusi ini memberi memberi nilai untuk perusahaan?
  4. Apa teknologi yang bisa digunakan untuk menghasilkan solusi?
  5. Apa saja proses perubahan organisatoris yang diperlukan oleh solusi tersebut?
  6. Apa kebijakan manajemen yang diperlukan untuk mengimplementasikan solusi?

Sumber: Kenneth C. Laundon & Jane P. Laundon, “Management Information System, Managing the Digital Firm”, Pearson Education, 2004.

-Semoga bermanfaat-

Enterprise Resource Planning (ERP)

Sejarah Singkat Enterprise Resource Planning (ERP)

ERP berkembang dari Manufacturing Resouces Planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evalusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur, logistik, distribusi persediaan (inventori), pengapalan, invois dan akunting perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia.

Enterprise Resource Planning (ERP) dan pendahulunya, Manufacturing Resource Planning (MRP II), memungkinkan terjadinya kemajuan yang sangat besar dalam manajemen proses-proses manufakturing. ERP juga salah satu faktor penyumbang pada performa ekonomi Amerika yang luar biasa pada era 1990-an. Tidak diragukan bahwa ERP adalah tonggak sejarah dalam proses industri. Berikut beberapa contoh bagus mengenai penerapan ERP di berbagai perusahaan. Investasi ERP sangat mahal dan pilihan ERP yang salah bisa menjadi mimpi buruk. ERP yang berhasil digunakan oleh sebuah perusahaan tidak menjadi jaminan berhasil di perusahaan yang lain. Perencanaan harus dilakukan untuk menyeleksi ERP yg tepat.

Pengertian ERP

Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto adalah aplikasi yang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas. Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-sistem yaitu sistem finansial, sistem distribusi, sistem manufaktur, sistem maintenance dan sistem human resource.

ERP (Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.

Pada prinsipnya, dengan sistem ERP sebuah industri dapat dijalankan secara optimal dan dapat mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisien seperti biaya inventory (slow moving part, dan lain-lain), biaya kerugian akibat ‘machine fault’ dan lain-lain. Di negara-negara maju yang sudah didukung oleh infrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT (Just-In-Time). Di sini, segala sumberdaya untuk produksi benar-benar disediakan hanya pada saat diperlukan (fast moving). Termasuk juga penyedian suku cadang untuk maintenance, jadwal perbaikan (service) untuk mencegah terjadinya machine fault, inventory.

Beberapa Variasi ERP

Di sistem manufaktur sendiri bisa terdapat beberapa variasi:

  • make-to-stock (diproduksi untuk dijadikan stok)
  • assemble-to-order (dirakit berdasarkan permintaan)
  • assemble-to-stock (dirakit untuk dijadikan stok)
  • make-to-order (diproduksi berdasarkan permintaan).

Contoh make-to-stock misalnya: pabrik kertas dimana kertas itu sudah menjadi suatu komoditi yang bisa dijual kapan saja. Sebuah contoh assemble-to-stock misalnya: pabrik TV yang mendatangkan komponennya secara knockdown yang kemudian di rakit untuk dijadikan TV siap jual.
Pada dasarnya, semakin kompleks suatu industri, maka sistem manufaktur tersebut juga makin menuju ke sistem assemble-to-order atau make-to-order. Sebagai contoh, industri pesawat nyaris tidak mungkin memakai sistem make to stock karena komponennya saja perlu di rancang khusus. Untuk industri seperti itu, beberapa vendor sistem ERP juga menyediakan sistem Project Management sebagai ganti dari sistem produksi.