Falsafah Cinta (Bagian-3, habis)

Cinta tidak hanya tertumpu pada daya tarikan fisik. Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik sebenarnya juga penting. Tetapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisiknya sahaja dan membencinya apabila fisiknya berubah atau membencinya tentang faktor yang lain selain fisiknya.

Semasa jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap sense fisik. Sense fisik itu hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personaliti masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu semata apabila kita menganggap sense fisik hanya memberi sensansi menyenangkan tampa makna apa-apa.

Cinta tidak buta. Tapi menerima cinta itu yang buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencintai melihat dan menyadari sisi buruk kekasihnya. Kerana besarnya cinta dia berusaha menerimanya dalam kedaan apapun. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu akan berubah menjadi baik. Itu kerana besarnya cinta dia coba untuk memperbaki sisi buruk tersebut. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud yang baik. Tidak boleh ada kritikan yang kasar, menolak bulat-bulat, geram dan marah atau merasa jijik. Nafsulah yang buta sebanarnya. Meskipun pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memberbaikinya. Juga akan meninggalkan pasanganya pada saat keinginanya telah terpuaskan, hanya kerana pasanganya mempunyai secuil keburukan yang sangat mungkin untuk diperbaiki.

Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan. Orang yang benar-benar mencintai memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubunganya dengan kekasihnya. Seboleh yang mungkin dia melakukan tindakan yang boleh memperkuat, mempertahankan dan memajukan hubunganya. Orang yang sedang tergila-gila’ mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasihnya. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasihnya menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang dicari.
Orang yang mencintai menyenangkan pasanganya untuk memperkuat hubungan. Cinta berani melakukan hal yang menyakitkan. Selain berusaha menyenangkan kekasihnya, orang yang sungguh-sungguh mencintai juga memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasihnya demi kebaikan.

Falsafah Cinta (Bagian-2)

Cinta itu konstruktif. Individu yang mencintai akan melakukan hal apa saja sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasanganya. Dia berani mempunyai niat dan cita-cita, bermimpi konstruktif dan merancang masa depan. Namun sebaliknya pada yang jatuh cinta yang implusif.

Bukan hanya berfikir dan bertindak konstruktif, dia akan kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah setiap hari. Yang difikirkan hanya kesengsaraan peribadinya. Impianya pun tidak mungkin akan tercapai. Bahkan impian itu boleh menjadi substitusi kenyataan.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Bagi penganut fahaman romatisme, mereka percaya cinta mampu mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit. Kemiskinan dan banyak masalah diyakini boleh diatasi dengan hanya berbekalan cinta belaka. Faktanya cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya boleh membuat pasangan kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin akan coba dirintis dengan jerih agar masalah tersebut dapat diatasi atau menemukan jalan keluar dari masalah tersebut.

Orang yang sedang mabuk kepayang bermakna tidak benar-benar mencintai, malah cenderung membutakan mata semasa sedang menghadapi masalah. Malah dengan tiba-tiba bertindak dengan akal sehatnya untuk mengetepikan masalah. Cinta akan cenderung mudur ke belakang. Ya, cinta itu bergerak kebelakang. Maka dengan itu kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun-naik sehingga tidak konsisten.

Pada saat berjauhan, kita merasakan kekasih lebih hebat berbanding pada ketika bersama, itu petanda kita mengidealisasikanya, bukan melihatnya secara realistik. Lantas pada saat kekasih kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritikal dan hilanglah segala bayangan hebat itu tadi. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat pada masa kita berdekatan denganya dan tidak merasakan hal yang sama pada masa berjauhan. Hal demikian menandakan kita hanya terpesona oleh daya tarikannya secara fisikal. Cinta akan dikira sehat apabila pada masa dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kiraan setara.

Falsafah Cinta (Bagian-1)

Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal yang sehat. Itu adalah Konsep pertama yang dibentangkan oleh Bowman (seorang pengkaji cinta) karena manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Memang benar kita jatuh cinta dengan hati, tetapi agar tidak menimbulkan kekacauan dikemudian hari, kita di haruskan juga untuk menggunakan akal yang sehat.

Sangat berbohong kalau antara kita semua boleh jatuh cinta dengan begitu saja tampa boleh mengelak. Yang sesungguhnya terjadi adalah, proses jatuh cinta yang dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standard, gagasan dan idealisme dari kelompok dari mana kita berasal. Sangat berbohong pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja pada saat jatuh cinta, dan tidak boleh diminta pertanggungjawapan bila perbuatan-perbuatan implusif itu berakibat buruk suatu ketika nanti.

Kehilangan perspektif bukanlah petanda kita telah jatuh cinta, melaikan sinyal kebodohan. Cinta memerlukan proses yang panjang! Bowman juga menolak anggapan cinta boleh berasal dari pandangan pertama. Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks, katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta memerlukan waktu. Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak kita ketahui asal-usulnya dengan begitu saja.

Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi secara berulang-ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus yang baru. Yang mungkin terjadi dalam fenomena, cinta pada pandangan pertama adalah pasangan yang telah diserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat, bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan komplusif itu berkembang menjadi cinta.

Cinta pada pandangan pertama, sebenarnya ramai orang tidak begitu benar-benar mencintai pasanganya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencintai. Mereka mencintai pasangan sebagai personaliti yang kokoh.

Cinta itu tidak menguasai dan juga tidak mengalah, tetapi saling berbagi rasa dan perasaan. Bukan cinta namanya apabila kita mempunyai kehendak mengawal pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih saja tampa memikirkan kepuasan diri sendiri juga. Orang yang saling mencintai tidak menganggap kekasihnya sebagai atasan atau bawahannya. Tetapi sebagai pasangan untuk saling berbagi rasa dan perasaan, juga untuk mengidentifikasi diri.

Bila kita mempunyai rasa keinginan menguasai kekasih (membuat sepadan pada pergaulanya, melarangnya melakukan aktiviti positif, mengawal selera cara dia perpakaian) atau melulu mengalah (tidak menunjukan langsung sikap protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan apabila telah dibandingkan dengan orang lain), bermakna kita belum bersedia memberi dan menerima cinta.