Keutamaan Qiyaamullail

Pengertian Qiyamullail

Sholat malam atau qiyamullail merupakan salah satu sholat sunnah mu’akad yang paling diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah meninggalkannya, baik ketika sedang bermukim maupun ketika berpergian. Di dalam Al-Quran surah Al-Muzzammil dan Al-Muddatsir dijelaskan bahwa sholat malam merupakan kewajiban bagi rasululllah saw dan sunnah bagi ummatnya. Dan bagi yang ingin tampil sebagai reformis (mampu melakukan perubahan sosial), qiyamullail merupakan syarat ruhiyah yang utama. Adalah sulit rasanya seorang Da’i akan berhasil dalam da’wahnya tanpa membiasakan diri dengan melaksanakan qiyamul lail.

Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berikanlah peringatan. dan agungkanlah Tuhanmu“. (QS: Al-Muddatsir 74:1-3) Continue reading “Keutamaan Qiyaamullail”

Dr. Yusuf Qardhawi – Profil Singkat dan Metode Dakwah

Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya. Continue reading “Dr. Yusuf Qardhawi – Profil Singkat dan Metode Dakwah”

Integrasi Nilai Islam Terhadap Sains

Pendidikan Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang mendapat banyak perhatian dari para ilmuwan. Hal ini karena di samping peranannya yang amat strategis dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia, juga karena di dalam pendidikan Islam terdapat berbagai masalah yang kompleks dan memerlukan penanganan segera. Bagi mereka yang akan terjun ke dalam bidang pendidikan Islam harus memiliki wawasan yang cukup tentang pendidikan Islam dan memiliki kemampuan untuk mengembangkannya sesuai dengan tuntutan zaman.

Dilihat dari segi obyek kajiannya Ilmu Pendidikan Islam dapat dibagi kepada tiga bagian. Pertama ada pengetahuan ilmu yaitu pengetahuan tentang hal-hal atau obyek-obyek yang empiris, diperoleh dengan melakukan penelitian ilmiah, dan teori-teorinya bersifat logis dan empiris. Pengujian teorinyapun diukur secara logis dan empiris. Bila dan empiris, maka teori ilmu itu benar, dan inilah yang selanjutnya disebut science.

Kedua, pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan tentang obyek-obyek yang abstrak logis, diperoleh dengan berfikir, dan teori-teorinya bersifat logis (tidak empiris). Kebenaran atau kesalahan teori filsafat hanya diukur dengan logika; bila logis dinilai benar; bila tidak maka salah. Bila logis dan ada bukti empiris, maka teori itu bukan teori filsafat, melainkan teori ilmu (sains).

Ketiga, pengetahuan mistik, yaitu pengetahuan yang obyek-obyeknya tidak bersifat empiris, dan tidak pula terjangkau oleh logika. Obyek pengetahuan ini bersifat abstrak, supra logis. Obyek ini dapat diketahui melalui berbagai cara, misalnya dengan merasakan pengetahuan batin, dengan latihan atau cara lain. Pengetahuan kita tentang yang gaib, diperoleh dengan cara ini.

Berdasarkan pembagian diatas, maka pengetahuan (ilmu) pendidikan Islam terdiri dari pengetahuan filsafat pendidikan, tasawuf pendidikan dan ilmu pendidikan. Filsafat dan tasawuf terkadang disebut ilmu, padahal secara akademis keduanya itu bukan ilmu tetapi pengetahuan, karena yang disebut ilmu harus bersifat empiris dan memiliki ciri-ciri ilmiah. Dengan demikian jika disebut Ilmu Pendidikan Islam, maka cakupannya ialah masalah-masalah yang berada dalam dataran ilmu (sains), yaitu obyek-obyek yang logis dan empiris tentang pendidikan.

Dalam bidang ilmu sains dan teknologi, kita tidak boleh bersikap tertutup. Sekalipun kita yakin bahwa Islam itu bukan dari Timur dan bukan Barat. Bagaimanapun Islam adalah suatu paradigma yang terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban dunia. Dalam sejarah, kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani-Romawi di Barat, dan peradaban-peradaban Persia, India, dan Cina di Timur. Selama abad VII sampai abad XV, ketika peradaban-peradaban besar di Barat dan Timur itu tenggelam dan mengalami kemerosotan, Islam bertindak sebagai pewaris utamanya untuk kemudian diambil alih oleh peradaban Barat sekarang melalui Renaisans. Jadi Islam menjadi mata rantai yang penting dalam sejarah peradaban dunia. Dalam kurun selama delapan abad itu, Islam bahkan mengembangkan warisan-warisan ilmu pengetahuan dari peradaban-peradaban tersebut.

Banyak contoh yang dapat dijadikan bukti tentang peranan Islam sebagai mata rantai peradaban dunia. Islam misalnya mengembangkan matematika di India, Ilmu kedokteran dari Cina, sistem pemerintahan dari Sasanid (Persia), logika Yunani, dan sebagainya. Tentu saja dalam proses peminjaman dan pengembangan itu, terjadi dialektika internal. Jadi misalnya untuk bidang-bidang pengkajian tertentu Islam menolak logika Yunani yang sangat rasional untuk digantikan dengan cara berfikir intuitif yang lebih menekankan rasa seperti yang dikenal dalam tasawuf. Ini merupakan proses yang wajar. Dan dengan proses ini pula Islam tidak sekedar mewarisi tapi juga melakukan enrichment dalam substansi dan bentuknya. Melalui inilah Islam akhirnya mampu menyumbangkan warisan-warisannya sendiri yang otentik.